FAKTOR-FAKTOR KECERAHAN LANGIT SENJA DAN PENGARUHNYA TERHADAP NILAI MINIMUMPARAMETER-PARAMETER FISIS VISIBILITAS HILAL

Ningsih, Rahayu (2015) FAKTOR-FAKTOR KECERAHAN LANGIT SENJA DAN PENGARUHNYA TERHADAP NILAI MINIMUMPARAMETER-PARAMETER FISIS VISIBILITAS HILAL. S1 thesis, Universitas Pendidikan Indonesia.

[img]
Preview
Text
S_FIS_1000726_Title.pdf

Download (176kB) | Preview
[img]
Preview
Text
S_FIS_1000726_Abstract.pdf

Download (89kB) | Preview
[img]
Preview
Text
S_FIS_1000726_Table_of_content.pdf

Download (255kB) | Preview
[img]
Preview
Text
S_FIS_1000726_Chapter1.pdf

Download (147kB) | Preview
[img] Text
S_FIS_1000726_Chapter2.pdf
Restricted to Staf Perpustakaan

Download (127kB)
[img]
Preview
Text
S_FIS_1000726_Chapter3.pdf

Download (120kB) | Preview
[img] Text
S_FIS_1000726_Chapter4.pdf
Restricted to Staf Perpustakaan

Download (701kB)
[img]
Preview
Text
S_FIS_1000726_Chapter5.pdf

Download (164kB) | Preview
[img]
Preview
Text
S_FIS_1000726_Bibliography.pdf

Download (225kB) | Preview
[img] Text
S_FIS_1000726_Appendix.pdf
Restricted to Staf Perpustakaan

Download (465kB)
Official URL: http://repository.upi.edu

Abstract

Belum disepakatinya suatu kriteria tunggal yang memiliki landasan ilmiah kokoh ditengarai menjadi penyebab Muslim Indonesia dalam beberapa kesempatan tidak serentak dalam menentukan awal dan akhir bulan Hijriyah. Pemerintah melalui Kementerian Agama menganut suatu kriteria yang disebut imkanur rukyat MABIMS. Kriteria ini masih dipertanyakan landasan ilmiahnya. Dalam naskah ini diinvestigasi kemudahan mengamati hilal dari wilayah tropis dan subtropis dengan mempertimbangkan faktor-faktor yang berkontribusi dalam mempengaruhi kecerahan langit senja, yaitu musim, elevasi, dan kondisi atmosfer setempat. Laporan pengamatan yang bersumber dari pangkalan data ICOP (Islamic Crescent Observation Program) dikelompokkan berdasarkan lintang geografis (tropis dan subtropis), selanjutnya dirinci berdasarkan musim, elevasi, dan polusi aerosolnya. Selanjutnya data dirajah ke dalam grafik umur hilal (AGE) terhadap elongasi (ARCL – Arc of Light) dan elongasi terhadap beda tinggi Bulan-Matahari (ARCV – Arc of Vision). Temuan yang didapatkan dalam modus pengamatan mata telanjang untuk wilayah tropis yaitu, AGE termuda 16,8 jam, ARCL terdekat 8,6o, dan ARCV terendah 8,4o serta untuk kasus hilal yang hanya dapat diamati dengan bantuan alat optic diperoleh AGE termuda 17 jam, ARCL terdekat 8,7o, dan ARCV terendah 8,5o. Nilai minimal yang dihasilkan pada kedua modus pengamatan diperoleh dari pengamatan pada saat musim kering di ketinggian lokasi 0–600 meter dari permukaan laut di wilayah sub-urban. Sementara untuk wilayah subtropis dalam modus mata telanjang diperoleh AGE termuda 15,5 jam, ARCL terdekat 7,6o, dan ARCV terendah 7,6o dari pengamatan saat musim dingin di ketinggian lokasi 1500–2500 meter dari permukaan laut di wilayah sub-urban, serta pada modus berbantuan alat diperoleh AGE minimum 12,96 jam, ARCL terdekat 7,02o, dan ARCV terendah 4,15o dari pengamatan saat musim dingin di ketinggian lokasi 600-1500 meter dari permukaan laut di wilayah sub-urban. Kata kunci: Kecerahan langit senja, Kriteria visibilitas hilal, Yisibilitas hilal. We investigate the ease of observing hilal for tropic and subtropic region by considering the factors that contribute to the sky twilight brightness, i.e. seasons, elevation and local atmospheric conditions. Observation reports come from the ICOP (Islamic Crescent Observation Program) database have been grouped based on geographical latitude (tropic and subtropic), to further detailed by season, elevation and aerosol pollution. Data is plot into the age of the hilal (AGE) and elongation (ARCL – Arc of Light) and elongation to altitude difference of the Moon-Sun (ARCV – Arc of Vision). The findings obtained in naked eye observation mode for tropic region are the youngest age of the hilal 16.8 hours, the nearest elongation 8.6o and lowest elongation to altitude difference 8.4o and in optical-aided observation mode, the youngest age of the hilal 17 hours, the nearest elongation 8.7o and lowest elongation to altitude difference 8.5o. The minimum value of both observation mode are obtained during dry season at altitude 0-600 meters above sea level in suburban. For subtropical region in naked eye observation mode, we obtained the youngest age of the hilal is 15.5 hours, the nearest elongation 7.6o and the lowest elongation to altitude difference 7.6o of observations during the winter in altitude from 1,500 to 2,500 meters above sea level in suburban. In optical-aided observation mode for the same region, we obtained the youngest age 12.96 hours, the nearest elongation 7.02o and the lowest elongation to altitude difference 4.15o of observations during the winter in altitude from 600 to 1,500 meters above sea level in suburban. Keywords: sky twilight brightness, hilal visibility criterion, hilal visibility.

Item Type: Skripsi,Tesis,Disertasi (S1)
Additional Information: No. Panggil: S_FIS_NIN f-2015
Uncontrolled Keywords: Kecerahan langit senja, Kriteria visibilitas hilal, Yisibilitas hilal.
Subjects: L Education > LB Theory and practice of education
L Education > LB Theory and practice of education > LB2300 Higher Education
Q Science > QC Physics
Divisions: Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam > Jurusan Pendidikan Fisika
Depositing User: DAM staf
Date Deposited: 27 Feb 2015 07:43
Last Modified: 27 Feb 2015 07:43
URI: http://repository.upi.edu/id/eprint/13504

Actions (login required)

View Item View Item