PERBANDINGAN PEMIKIRAN NASIONALISME ISLAM SOEKARNO DAN KARTOSOEWIRJO TAHUN 1927-1962

Nuriana, Rina (2017) PERBANDINGAN PEMIKIRAN NASIONALISME ISLAM SOEKARNO DAN KARTOSOEWIRJO TAHUN 1927-1962. S1 thesis, Universitas Pendidikan Indonesia.

[img]
Preview
Text
S_SEJ_1301100_Title.pdf

Download (17kB) | Preview
[img]
Preview
Text
S_SEJ_1301100_Abstract.pdf

Download (133kB) | Preview
[img]
Preview
Text
S_SEJ_1301100_Table_of_content.pdf

Download (256kB) | Preview
[img]
Preview
Text
S_SEJ_1301100_Chapter1.pdf

Download (297kB) | Preview
[img] Text
S_SEJ_1301100_Chapter2.pdf
Restricted to Staf Perpustakaan

Download (372kB)
[img]
Preview
Text
S_SEJ_1301100_Chapter3.pdf

Download (280kB) | Preview
[img] Text
S_SEJ_1301100_Chapter4.pdf
Restricted to Staf Perpustakaan

Download (728kB)
[img]
Preview
Text
S_SEJ_1301100_Chapter5.pdf

Download (239kB) | Preview
[img]
Preview
Text
S_SEJ_1301100_Bibliography.pdf

Download (223kB) | Preview
Official URL: http://repository.upi.edu

Abstract

Dari hasil penelitian yang telah dilakukan oleh penulis menunjukkan bahwa Soekarno dan Kartosoewirjo mendapatkan pengaruh dari organisasi yang sama, yaitu Sarekat Islam, sebuah organisasi yang dipimpin oleh Cokroaminoto. Dari organisasi itulah keduanya mendapatkan pengaruh dari unsur nasionalisme, dari organisasi itu juga keduanya mulai menanamkan jalan pemikirannya masing-masing. Melihat bahwa Sarekat Islam merupakan organisasi yang tidak hanya kental dengan unsur-unsur nasionalisme, namun juga sangat kental dengan unsur-unsur Islam yang kemudian dijadikan sebagai jalan perjuangan Kartosoewirjo. Namun walaupun begitu keduanya memiliki rasa simpati yang sama terhadap keadaan umat Islam di Indonesia pada masa penjajahan, dan keduanya sangat berani dalam melontarkan kritikan terhadap penjajah. Dalam perjalanan pemikiran Soekarno tentang Islam, ia banyak menyuarakan tentang pembaharuan dan modernisasi Islam. Hal itu merupakan aplikasi dari pengaruh berbagai organisasi sebelumnya. Tidak hanya itu, pemikiran keislaman Soekarno juga dipengaruhi oleh tokoh-tokoh modernis dari luar yang telah lebih dulu menerapkan modernisasi di negaranya, salah satunya yaitu Mustafa Kemal di Turki. Pemikiran pembaharuan Islam Soekarno juga terlihat dalam suratnya yang dikirimkan kepada Ahmad Hasan, tokoh sekaligus pemimpin organisasi Persis (Persatuan Islam) di Bandung. Kartosoewirjo merupakan penganut paham Islam tradisional, dalam artian masih menggunakan paham-paham Islam yang berlaku sudah sejak lama, namun ia berjuang untuk mengembalikan kebiasaan masyarakat sesuai dengan ajaran dalam Agama Islam yang sesungguhnya. Adapun hasil dari pemikiran Soekarno merujuk kepada paradigma substantifistik, yakni memisahkan antara agama dan negara. Sedangkan Kartosoewirjo merujuk kepada paradigma formalistik, yakni memadukan antara agama dan negara yang kemudian menjadi negara Islam.;--- Based on the results of the study, it can be seen that Soekarno and Kartosoewirjo obtained an influence from the same organization, Sarekat Islam, an organization lead by Cokroaminoto. From that organization, both obtained influence of nationalism; also from that organization both implement their way of thinking. Sarekat Islam was not merely an organization which was bold by its nationalism characteristics, but also Islamic characteristics used by Kartosoewirjo for his efforts. Yet both had similar sympathy for the condition of Muslims in Indonesia during colonial times, and both were very brave in criticizing the invaders. In the course of Soekarno's thoughts on Islam, he has spoken much about the renewal and modernization of Islam. It is an application of the influence of various organizations before. Not only that, Sukarno's Islamic thinking was also influenced by the external modernist figures who had already applied modernization in his country, one of them is Mustafa Kemal in Turkey. The thought of Islamic reformation of Soekarno was also seen in his letter sent to Ahmad Hasan, the leader and leader of the Persis (Persatuan Islam) organization in Bandung. Kartosoewirjo is a traditional adherent of Islam, in the sense of still using the prevailing Islamic understandings, but he is struggling to restore the customs of society in accordance with the teachings of true Islam. The outcome of Soekarno's thinking refers to the substantive paradigm, ie separating between religion and state. While Kartosoewirjo refers to the formalistic paradigm, which combines between religion and state which later became an Islamic state.

Item Type: Skripsi,Tesis,Disertasi (S1)
Additional Information: No. Panggil : S SEJ NUR p-2017; Pembimbing : I. Suwirta, II. Farida Sarimaya; NIM : 1301100.
Uncontrolled Keywords: Pemikiran, Nasionalisme Islam, Paradigma Substantifistik, Paradigma Formalistik, thought, Islamic Nationalism, Substantifistic paradigm , Formalistik Paradigm.
Subjects: B Philosophy. Psychology. Religion > BP Islam. Bahaism. Theosophy, etc
D History General and Old World > D History (General)
Divisions: Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial > Pendidikan Sejarah
Depositing User: Mrs. Santi Santika
Date Deposited: 22 Feb 2018 01:27
Last Modified: 22 Feb 2018 01:27
URI: http://repository.upi.edu/id/eprint/29126

Actions (login required)

View Item View Item