KEPERCAYAAN MASYARAKAT MENGENAI CERITA GERHANA ATAU SAMAGAHA YANG DIYAKINI SEBAGAI SALAH SATU PERISTIWA GAIB (KAJIAN TRADISI LISAN)

Windha Khairunnisa, - (2019) KEPERCAYAAN MASYARAKAT MENGENAI CERITA GERHANA ATAU SAMAGAHA YANG DIYAKINI SEBAGAI SALAH SATU PERISTIWA GAIB (KAJIAN TRADISI LISAN). S1 thesis, Universitas Pendidikan Indonesia.

[img] Text
FPBS_S_IND_1403867_Title.pdf

Download (200kB)
[img] Text
FPBS_S_IND_1403867_Table_of_content.pdf

Download (411kB)
[img] Text
FPBS_S_IND_1403867_Abstrak.pdf

Download (347kB)
[img] Text
FPBS_S_IND_1403867_Chapter1.pdf

Download (460kB)
[img] Text
FPBS_S_IND_1403867_Chapter2.pdf
Restricted to Staf Perpustakaan

Download (544kB)
[img] Text
FPBS_S_IND_1403867_Chapter3.pdf

Download (487kB)
[img] Text
FPBS_S_IND_1403867_Chapter4.pdf
Restricted to Staf Perpustakaan

Download (944kB)
[img] Text
FPBS_S_IND_1403867_Chapter5.pdf

Download (435kB)
[img] Text
FPBS_S_IND_1403867_Bibllography.pdf

Download (384kB)
[img] Text
FPBS_S_IND_1403867_Appendix.pdf
Restricted to Staf Perpustakaan

Download (335kB)
Official URL: http://repository.upi.edu

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi fenomena gerhana yang diyakini sebagai salah satu pertanda terjadinya bencana atau musibah, baik itu yang berkaitan dengan keberadaan jin atau sejenisnya. Mitos gerhana melibatkan tiga narasumber dari tiga daerah yang berbeda di Kabupaten Bandung Barat. Sumber data tersebut didapat dari Desa Cijamil, Desa Cibodas, dan Desa Cicarita. Lokasi tersebut dipilih karena dianggap representatif dalam wawasan kebudayaan lokal berkenaan dengan gerhana. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Berdasarkan hasil penelitian didapat bahwa kegiatan-kegiatan mistik masih dilakukan. Hal itu ditunjukkan masyarakat Sunda untuk memelihara dan menjaga kelestarian budaya. Gerhana atau samagaha memiliki unsur yang berkaitan dengan sistem agama dan kepercayaan. Penelitian ini menggunakan struktur naratif Todorov untuk membongkar dan memaparkan sedalam mungkin keterkaitan dan keterjalinan semua unsur dan aspek mitos gerhana. Adapun analisis proses penciptaan yang terdiri dari analisis proses pewarisan dan analisis proses penciptaan. Sedangkan analisis konteks meliputi konteks situasi dan konteks budaya. Konteks situasi berkaitan dengan waktu, tujuan, peralatan, dan teknik penuturan. Selain itu, konteks budaya berkaitan dengan lokasi, penutur dan audiens, latar sosial budaya, dan kondisi sosial ekonomi. Adapun temuan dalam penelitian ini menunjukkan bahwa mitos gerhana ini mempunyai enam fungsi, yaitu sebagai sistem proyeksi, sebagai alat pengesahan pranata-pranata dan lembaga-lembaga kebudayaan, sebagai alat pendidikan, sebagai alat pemaksan dan pengawas, untuk mempertebal perasaan solidaritas kolektif, dan sebagai hiburan. Selain fungsi, mitos gerhana ini juga memiliki dua makna: (1) mengajarkan pentingnya kerja sama; (2) mengingatkan manusia untuk bertafakur tentang kebesaran Allah Swt. Dengan demikian, penelitian ini dilakukan untuk mengkaji bagaimana pola kepercayaan masyarakat mengenai mitos gerhana yang diyakini sebagai salah satu peristiwa gaib.;--- This research is motivated by the phenomenon of eclipse which is believed to be one of the signs of a disaster or disaster, whether it is related to the presence of genies or the like. The eclipse myth involves three speakers from three different regions in West Bandung Regency. The data sources were obtained from Cijamil Village, Cibodas Village, and Cicarita Village. The location was chosen because it was considered representative in local cultural insights regarding eclipses. The method used in this study is a qualitative descriptive method. Based on the results of the study, it was found that mystical activities were still carried out. It was shown by the Sundanese people to maintain and preserve culture. Eclipse or samagaha has elements related to the system of religion and belief. This research uses Todorov's narrative structure to dismantle and explain as deeply as possible the interrelationships and intertwining of all the elements and aspects of the eclipse myth. The analysis of the creation process consists of analyzing the inheritance process and analyzing the creation process. Whereas context analysis covers the context of the situation and cultural context. The context of the situation relates to time, goals, tools, and narrative techniques. In addition, the cultural context relates to location, speakers and audience, socio-cultural background, and socio-economic conditions. The findings in this study indicate that the eclipse myth has six functions, namely as a projection system, as a means of ratifying cultural institutions and institutions, as educational tools, as a means of coercion and supervision, to strengthen feelings of collective solidarity, and as entertainment. Apart from functions, this eclipse myth also has two meanings: (1) teaches the importance of cooperation; (2) remind people to recite the greatness of Allah Swt. Thus, this study was conducted to examine how the pattern of public trust regarding the eclipse myth is believed to be one of the occult events.

Item Type: Tugas Akhir,Skripsi,Tesis,Disertasi (S1)
Additional Information: No. Panggil :S_IND_WIND k-2019; Nama Pembimbing : I.Drs.Memen , II.Yostiani noor asmi harini; NIM :1403867;
Uncontrolled Keywords: Myth, Samagaha, Folklore.;---Mitos, Samagaha, Tradisi Lisan.
Subjects: L Education > L Education (General)
P Language and Literature > P Philology. Linguistics
Divisions: Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni > Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia > Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Depositing User: Ryan Taufiq Qurrohman
Date Deposited: 13 Mar 2020 03:58
Last Modified: 13 Mar 2020 03:58
URI: http://repository.upi.edu/id/eprint/47902

Actions (login required)

View Item View Item