KONSTRUKSI MAKNA LANSIA DAN PEMENUHAN HAK-HAK SEBAGAI WARGA NEGARA : Studi fenomenologi dalam perspektif pendidikan kewarganegaraan

Yasnita, - (2019) KONSTRUKSI MAKNA LANSIA DAN PEMENUHAN HAK-HAK SEBAGAI WARGA NEGARA : Studi fenomenologi dalam perspektif pendidikan kewarganegaraan. S3 thesis, Universitas Pendidikan Indonesia.

[img] Text
D_PKn_1502309_Title.pdf

Download (935kB)
[img] Text
D_PKn_1502309_Chapter1.pdf

Download (562kB)
[img] Text
D_PKn_1502309_Chapter2.pdf
Restricted to Staf Perpustakaan

Download (1MB)
[img] Text
D_PKn_1502309_Chapter3.pdf

Download (1MB)
[img] Text
D_PKn_1502309_Chapter4.pdf
Restricted to Staf Perpustakaan

Download (3MB)
[img] Text
D_PKn_1502309_Chapter5.pdf

Download (196kB)
[img] Text
D_PKn_1502309_Appendix.pdf
Restricted to Staf Perpustakaan

Download (14MB)
Official URL: http://repository.upi.edu

Abstract

Transisi demografi yang sangat cepat berimplikasi pada semakin meningkatnya jumlah populasi lansia. Tantangan yang paling mendasar yang dihadapi oleh setiap negara adalah memerangi ageisme, yang berimplikasi pada persepsi diri, persepsi masyarakat, dan kebijakan negara terhadap lansia. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara mendalam mengenai konstruksi makna dan pemenuhan hak-hak lansia oleh negara dalam perspektif Pendidikan kewarganegaraan, sehingga akan diperoleh gambaran obyektif dan komprehensif yang dapat berkontribusi terhadap kebijakan yang berpihak pada lansia. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi yang difokuskan pada penafsiran realitas yang dibentuk oleh praktik-praktik interpretatif untuk membangun konstruksi makna lansia serta untuk mendapatkan informasi yang mendalam mengenai pemenuhan hak-hak lansia sebagai warga negara.Lokasi penelitian terdiri dari 3 provinsi, yaitu DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa : (1) Persepsi lansia terhadap diri dan dunia sosialnya menghasilkan kategori lansia yang berintegritas dan lansia yang putus asa; (2) Secara sosio kultural, Indonesia memiliki local wisdom yang sangat memuliakan lansia, namun ageisme menjadi paham yang membentuk persepsi masyarakat terhadap lansia (konstruksi sosial); (3) Pemenuhan hak-hak lansia oleh negara masih sangat terbatas dan fokus pada lansia miskin terlantar yang “terberi”, dan belum menjangkau seluruh kategori lansia yang berbeda kebutuhannya;(4) Ageism dapat diminimalisir melalui proses Pendidikan inklusif yang menghargai perbedaan usia (civic education) dan berbagai gerakan pilantropi yang dapat dijadikan media untuk memuliakan lansia (citizenship education). Hasil penelitian ini dapat direkomendasikan untuk dijadikan rujukan oleh pemerintah dalam merumuskan kebijakan yang berkeadilan. Rapid transition of demography has impacted on the increment of elderly population. The main challenge faced by every citizen is to combate ageism (to cope with ageism) that affects on the construction of elderly’s self perception , public perception and the state policy on elderly care. This study aims at investigating in depth the meaning construction and the fulfilment of the rights of elderly by the state from the perspective of Civic education; therefore, an objective and comprehensive picture that could contribute to the formulation of supporting policy for elderly, can be released. This study used qualitative approach with phenomenology method focusing on the interpretation of reality developed by interpretative practices to build the construction of the meaning of the elderly and to gain deep and comprehensive information about the fulfillment of elderly rights as the citizens. This study was conducted in 3 provinces, namely Jakarta, West Java, and Yogyakarta. The findings of this study reveal that: 1) The perception of elderly on themselves and their social environment released two categories of elderly, namely elderly with integrity and desperation; 2) In terms of socio-cultural aspect, Indonesia has local wisdoms that extremely glorify and appreciate elderly; however, ageism becomes a concept of understanding that constructs society perception on elderly (social construction); 3) The fulfilment of the elderly rights by the state is still lack and merely focuses on elderly being neglected, poor, and ‘given’, and it has not yet covered all categories of elderly with different needs; 4)Ageism can be minimized by implementing inclusive education that respects age difference (civic education), and various and numerous philanthropy movements that could be used as the media to glorify and respect elderly (citizenship education). The results of this study can be recommended as a reference for the government to formulate fair policies.

Item Type: Tugas Akhir,Skripsi,Tesis,Disertasi (S3)
Uncontrolled Keywords: fenomenologi, konstruksi makna, lansia, pemenuhan hak, PKN,warga negara,
Subjects: H Social Sciences > HN Social history and conditions. Social problems. Social reform
J Political Science > JS Local government Municipal government
L Education > L Education (General)
Divisions: Sekolah Pasca Sarjana > Pendidikan Kewarganegaraan S-3
Depositing User: Yasnita
Date Deposited: 14 Feb 2020 02:40
Last Modified: 14 Feb 2020 02:40
URI: http://repository.upi.edu/id/eprint/46601

Actions (login required)

View Item View Item