FEMINISME SUNDA KUNO : Studi Interpretasi Kritis Akulturasi Nilai-Nilai Kesetaraan Gender Sunda-Islam dalam Carita Pantun Sri Sadana

Tohari, Heri Mohamad (2013) FEMINISME SUNDA KUNO : Studi Interpretasi Kritis Akulturasi Nilai-Nilai Kesetaraan Gender Sunda-Islam dalam Carita Pantun Sri Sadana. S2 thesis, Universitas Pendidikan Indonesia.

[img]
Preview
Text
T_PU_1005035_Title.pdf

Download (410kB) | Preview
[img]
Preview
Text
T_PU_1005035_Abstract.pdf

Download (364kB) | Preview
[img]
Preview
Text
T_PU_1005035_Table of Content.pdf

Download (335kB) | Preview
[img]
Preview
Text
T_PU_1005035_Chapter1.pdf

Download (483kB) | Preview
[img] Text
T_PU_1005035_Chapter2.pdf
Restricted to Staf Perpustakaan

Download (976kB)
[img]
Preview
Text
T_PU_1005035_Chapter3.pdf

Download (623kB) | Preview
[img] Text
T_PU_1005035_Chapter4.pdf
Restricted to Staf Perpustakaan

Download (1MB)
[img]
Preview
Text
T_PU_1005035_Chapter5.pdf

Download (367kB) | Preview
[img]
Preview
Text
T_PU_1005035_Bibliography.pdf

Download (432kB) | Preview

Abstract

Penelitian ini berjudul Feminisme Sunda Kuno (Studi Interpretasi Kritis Akulturasi Nilai-Nilai Kesetaraan Gender Sunda-Islam dalam Carita Pantun Sri Sadana), dengan latar belakang penelitian yakni masyarakat Sunda belum memiliki basis epistemologis yang kuat dan khas mengenai diskursus feminisme, padahal alam pikiran Sunda menempatkan posisi perempuan dalam tempat yang agung, salah satunya dalam mitologi Sri Sadana. Metode penelitian tesis ini menggunakan metode kualitatif deskriptif, dengan model analisis kritis data melalui pengumpulan data tipe studi literer, yakni cara-cara yang digunakan oleh peneliti dengan menghimpun kemudian menginterpretasikan semua data dan referensi teks/pustaka. Penelitian ini berusaha menjawab pertanyaan penelitian yang berbunyi: pertama seperti apakah proses, bentuk akulturasi budaya Sunda Islam dalam carita pantun Sunda Sri Sadana. Kedua, nilai-nilai kesundaan apa yang terdapat pada carita pantun Sunda Sri Sadana dikaitkan dengan kesetaraan gender. Ketiga, nilai-nilai Islami apakah yang melekat pada carita pantun Sri Sadana. Dan keempat, sikap perempuan Sunda seperti apakah yang mencerminkan nilai Sunda Islami berbasis kesetaraan gender. Hasil dari pengolahan data menunjukkan kesimpulan bahwa gejala feminisme dalam carita pantun Sri Sadana mewujud bukan dalam bentuk feminisme sebagai sebuah gerakan, tetapi feminisme sebagai sebuah nilai/ide. Carita Pantun Sri Sadana mengandung makna-makna (meaning) yang dominan berupa makna simbolik, estetik, dan etika (tatakrama). Mitologi Sri Sadana sebagai local wisdom Orang Sunda telah memberikan pendidikan nilai yang luar biasa, bahwasanya alam pikiran manusia Sunda telah menempatkan perempuan dalam posisi yang sangat terhormat. Dominasi perempuan dalam pos strategis kosmologis Dewa-Dewi tidak menjadikan perempuan Sunda menjadi superior yang mensubordinasi kaum laki-laki. Justru dengan posisi terhormat tersebut, harmonisasi dan sinergitas terwujud dalam relasi gender. Posisi perempuan saling melengkapi dengan posisi kaum laki-laki. Feminisme Sunda adalah feminisme kearifan, berbeda dengan feminisme Barat yang muncul karena berlatar belakang subordinasi perempuan, yang akihrnya mereka bangkit melakukan gerakan sebagai “balas dendam” terhadap kaum laki-laki. Sedangkan temuan masalah yang melahirkan rekomendasi dalam penelitian ini yakni: pertama, masih adanya segolongan masyarakat yang menganggap munculnya fenomena kebudayaan Sunda-Islam sebagai “ajaran baru”. Kedua, karena kebudayaan itu bersifat dinamis, peran penting posisi perempuan dalam mitologi dan kebudayaan Sunda tersebut, ke depan nantinya berubah menjadi dominasi dan subordinasi terhadap kaum laki-laki. Ketiga, ada banyak diketemukan perempuan Sunda yang menempati posisi penting pada zaman postmodern ini tetapi mereka begitu asing dengan kebudayaan Sunda, apakah unggulnya perempuan Sunda tersebut benar-benar dipengaruhi oleh mitologi unggul dalam kebudayaannya? Maka hal ini diperlukan sebuah penelusuran riset lanjutan. Sebagai akhir penelitian, penulis merekomendasikan: 1. kepada pemuka agama dan tokoh masyarkat agar memberikan pemahaman yang benar antara agama dan budaya. 2. Guru dan dosen agar memberikan pemahaman yang benar mengenai relasi gender. 3. Ki Sunda terutama kaum perempuan Sunda Postmodern agar bisa menempatkan perempuan bukan sebagai imam, bukan pula sebagai hamba, tetapi menjadi pendamping sinergis dengan kaum laki-laki, dan 4. Peneliti selanjutnya dapat mengkaji makna carita pantun Sri Sadana dari sisi lain yang berbeda.

Item Type: Skripsi,Tesis,Disertasi (S2)
Subjects: Universitas Pendidikan Indonesia > Sekolah Pasca Sarjana > Pendidikan Umum/Nilai S-2
Divisions: Sekolah Pasca Sarjana > Pendidikan Umum/Nilai S-2
Depositing User: DAM STAF Editor
Date Deposited: 12 Dec 2013 01:36
Last Modified: 12 Dec 2013 01:36
URI: http://repository.upi.edu/id/eprint/4056

Actions (login required)

View Item View Item