CAMPUR KODE DINA ACARA MILANG BÉNTANG AKTV (Ulikan Sosiolinguistik)

Dini Fitriani Noor Robiah, - (2019) CAMPUR KODE DINA ACARA MILANG BÉNTANG AKTV (Ulikan Sosiolinguistik). S1 thesis, Universitas Pendidikan Indonesia.

[img] Text
S_BD_1504170_Title.pdf

Download (576kB)
[img] Text
S_BD_1504170_Chapter1.pdf

Download (501kB)
[img] Text
S_BD_1504170_Chapter2.pdf
Restricted to Staf Perpustakaan

Download (589kB)
[img] Text
S_BD_1504170_Chapter3.pdf

Download (536kB)
[img] Text
S_BD_1504170_Chapter4.pdf
Restricted to Staf Perpustakaan

Download (763kB)
[img] Text
S_BD_1504170_Chapter5.pdf

Download (282kB)
[img] Text
S_BD_1504170_Appendix.pdf
Restricted to Staf Perpustakaan

Download (809kB)
Official URL: http://repository.upi.edu

Abstract

Fenomena multilingualisme yang terjadi pada masyarakat Indonesia khususnya di daerah Jawa Barat menyebabkan permasalahan campur kode. Hal tersebut salah satunya dipengaruhi oleh acara-acara televisi yang menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantarnya. Namun dengan berkembangnya stasiun-stasiun televisi lokal di Jawa Barat, mulai bermunculan acara televisi yang menggunakan bahasa Sunda sebagai bahasa pengantar. Oleh karena itu, objek dalam penelitian ini adalah acara Milang Béntang di AKTV yang menggunakan pengantar bahasa Sunda dalam acaranya. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan jenis, wujud, dan faktor yang mempengaruhi berlangsungnya peristiwa campur kode dalam acara Milang Béntang AKTV. Untuk mengatasi masalah tersebut digunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Teknik pengumpulan data yang dipakai yaitu melalui studi dokumenter. Hasil dari penelitian ini menunjukkan adanya penggunaan campur kode dalam acara tersebut. Dilihat dari jenisnya, campur kode ke dalam termasuk campur kode yang paling banyak ditemukan (602 unsur), dilanjutkan dengan campur kode ke luar (154 unsur), dan jenis campur kode yang paling sedikit ditemukan adalah campur kode campuran (12 unsur). Contoh dari masing-masing jenis campur kode tersebut adalah ‘bintang’, off air, dan janten mall. Berdasarkan wujudnya, yang paling banyak ditemukan dalah campur kode dalam tataran morfologis (505 unsur), seperti kata show dan dilist; dilanjutkan dengan campur kode dalam tataran sintaksis (260 unsur), contohnya seperti frasa ‘masa kini’; dan yang paling sedikit ditemukan adalah campur kode dalam tataran leksiko-semantis (6 unsur), seperti idiom ‘tongkat estafet’. Faktor-faktor yang melatarbelakangi terjadinya peristiwa campur kode dalam acara “Milang Béntang” AKTV yaitu identifikasi peran penutur, identifikasi yang dipakai penutur, dan keinginan penutur untuk menjelaskan dan memberi tafsiran. Berdasarkan hal tersebut terlihat bahwa campur kode dalam acara Milang Béntang AKTV umumnya merupakan campur kode yang bersifat ke dalam pada tataran morfologis yang berwujud kata, serta faktor utama yang menyebabkan peristiwa campur kode dalam acara tersebut adalah faktor identifikasi peran penutur. Kata kunci: campur kode, acara Milang Béntang AKTV The phenomenom of multilingualism that occurs in Indonesian society, especially in West Java, causes problems with code mixing. One of them is influenced by television programs that use Indonesian as the introductory language. But with the development of local television stations in West Java, television programs began to appear using Sundanese as the language of instruction. Therefore, the object of this research is the Milang Béntang program on AKTV which uses Sundanese language on the show. This study aims to describe the types, forms, and factors underlying the occurrence of code mixing events in the AKTV Milang Béntang programme. To overcome this problem, a qualitative approach with descriptive methods was used. Data collection technique used is through documentary studies. The results of this study indicate the use of a mixed code in the program. Judging from the type, inner code mixing is the most commonly found of code mixing (602 elements), followed outer code mixing (154 elements), and the least type of code mixing is hybrid code mixing (12 elements). Examples of each type of code mixing are bintang, ‘off air’, and ‘janten mall’. As for its form, the most found is code mixing at the morphological structure (505 elements), such as the word ‘show’ and dilist; followed by code mixing at the syntactic structure (260 elements), for example like the phrase masa kini; and the least found is code mixing in the lexical-semantic structure (6 elements), such as the idiom tongkat estafet. The factors underlying the occurrence of code mixing in the AKTV Milang programme are identification of the role of speakers, identification of the speakers used, and the desire of speakers to explain and interpret. Based on this, it can be seen that the code mixing in the AKTV Milang Béntang programme is generally inner code mixing in the morphological structure that is in the form of words, and the main factor that caused the code mixing in the programme was the identification of the role of speakers. Keywords: code mixing, Milang Béntang AKTV programme

Item Type: Tugas Akhir,Skripsi,Tesis,Disertasi (S1)
Uncontrolled Keywords: campur kode, acara Milang Béntang AKTV
Subjects: L Education > L Education (General)
P Language and Literature > P Philology. Linguistics
Divisions: Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni > Jurusan/Program Studi Pendidikan Bahasa Daerah
Depositing User: DINI FITRIANI NOOR ROBIAH
Date Deposited: 03 Jun 2020 07:00
Last Modified: 03 Jun 2020 07:00
URI: http://repository.upi.edu/id/eprint/39548

Actions (login required)

View Item View Item