PUISI MANTRA DI DÉSA CIPANAS KACAMATAN TANJUNGKERTA KABUPATÉN SUMEDANG:ULIKAN STRUKTURAL JEUNG SEMIOTIK

Khaffid Syahrul Ilman KRP, - (2017) PUISI MANTRA DI DÉSA CIPANAS KACAMATAN TANJUNGKERTA KABUPATÉN SUMEDANG:ULIKAN STRUKTURAL JEUNG SEMIOTIK. S1 thesis, Universitas Pendidikan Indonesia.

[img] Text
S_BD_1301497_Title.pdf

Download (90kB)
[img] Text
S_BD_1301497_Abstract.pdf

Download (169kB)
[img] Text
S_BD_1301497_Table_of_content.pdf

Download (144kB)
[img] Text
S_BD_1301497_Chapter1.pdf

Download (223kB)
[img] Text
S_BD_1301497_Chapter2.pdf
Restricted to Staf Perpustakaan

Download (386kB)
[img] Text
S_BD_1301497_Chapter3.pdf

Download (300kB)
[img] Text
S_BD_1301497_Chapter4.pdf
Restricted to Staf Perpustakaan

Download (1MB)
[img] Text
S_BD_1301497_Chapter5.pdf

Download (208kB)
[img] Text
S_BD_1301497_Bibliography.pdf

Download (135kB)
[img] Text
S_BD_1301497_Appendix.pdf
Restricted to Staf Perpustakaan

Download (228kB)
Official URL: http://repository.upi.edu

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk membahas struktur dan makna yang tersirat dalam puisi mantra di Désa Cipanas, Kecamatan Tanjungkerta, Kabupaten Sumedang, agar dapat dipahami dan diaprésiasi oleh masyarakat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan tehnik analisis studi pustaka dan wawancara. Sumber data dalam penelitian ini meliputi tiga aspék, yakni manusia (person), tempat (place), dan kertas atau dokumen (paper). Dari hasil penelitian, terkumpul 70 puisi mantra. Dari jumlah puisi mantra yang ditemukan, hanya 30 puisi mantra yang dianalisis. Selanjutnya dibuat klasifikasi puisi mantra berdasarkan jenis-jenisnya, kemudian dianalisis struktur dan semiotiknya. Dari analisis struktur puisi mantra, ditemukan beberapa diksi; yang paling banyak digunakan yaitu bahasa Sunda dan bahasa Arkais. Imaji yang paling banyak ditemukan yakni imaji visual dan taktil. Bahasa figuratif yang paling banyak ditemukan menggunakan gaya bahasa perumpamaan (simile) dan melebih-lebihkan (hiperbola). Lambang yang ditemukan paling banyak yakni lambang benda, sedangkan verifikasi yang ditemukan kebanyakan menggunakan purwakanti maduswara, laraspurwa, dan larawekas. Adapun suku kata yang ditemukan paling banyak yakni delapan suku kata dengan pola 4-4. Dari analisis semiotik ditemukan makna seutuhnya tentang isi dan tujuan masing-masing teks mantra. Jumlah model yang ditemukan dalam puisi mantra ada yang berjumlah satu, dua, empat, dan lima. Adapun hipogram yang ditemukan takni sembilan hipogram potensial, 14 hipogram aktual, dan tujuh hipogram potensial-aktual. Selain itu, penelitian ini diharapkan bisa menambah pengetahuan dan atau ilmu tentang struktur dan semiotik dalam karya sastra khusunya puisi mantra. Rekomendasi dalam penelitian ini diajukan kepada lembaga kebudayaan, peneliti selanjutnya, mahasiswa, dan juga masayrakat umum.---This study aims to discuss the structure and meaning implicit in the mantra's poetry in Désa Cipanas, Tanjungkerta Subdistrict, Sumedang District, in order to be understood and diaprésiasi by society . The method used in this research is descriptive method with literature analysis and interview technique. Sources of data in this study include three aspék, namely human (person) , place (place) , and paper or dokumen (paper). From the results of the study, 70 poems of mantras were collected. Of the number of mantra poems found, only 30 mantra poems were analyzed. Furthermore, the classification of mantra poetry is made based on the types, then analyzed the structure and semiotiknya. From the analysis of the structure of the mantra poem, it was found some diction; the most widely used are Sundanese and Arkai languages. The most visible images are visual and tactile imagery. The most figurative languages are found using simile and exaggeration (hyperbola)styles . The most commonly found symbol is the object symbol, whereas the verification found mostly uses the maduswara, laraspurwa, and larawekas purwakanti. The most widely found syllables are eight syllables with a 4-4 pattern . From the analysis of semiotics found the full meaning of the content and purpose of each text of the mantra. The number of models found in the mantra poems is one, two, four, and five. The hypogram found nine potential hypogly, 14 actual hypogram, and seven potential-actual hypogram. In addition, this research is expected to increase the knowledge and or science about the structure and semiotics in literary works especially the mantra poetry . The recommendations in this study were submitted to cultural institutions, subsequent researchers, students, and also the general public.

Item Type: Skripsi,Tesis,Disertasi (S1)
Additional Information: No. Panggil : S BD KHA p-2017 Pembimbing I : Ruhaliah II : Retty Isnendes NIM : 1301497
Uncontrolled Keywords: struktur, semiotik, mantra.
Subjects: L Education > L Education (General)
P Language and Literature > P Philology. Linguistics
Divisions: Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni > Jurusan/Program Studi Pendidikan Bahasa Daerah
Depositing User: DAM STAF Editor
Date Deposited: 20 Feb 2019 10:20
Last Modified: 20 Feb 2019 10:20
URI: http://repository.upi.edu/id/eprint/33847

Actions (login required)

View Item View Item