POLA PENDIDIKAN AKIDAH DI PESANTREN DALAM MEMBENTUK KARAKTER SANTRI :Studi Kasus Tentang Kegiatan Pendidikan Akidah di Lingkungan Pondok Pesantren Nurussalam Cintaharja Kujang Cikoneng Ciamis

Suryawan, (2013) POLA PENDIDIKAN AKIDAH DI PESANTREN DALAM MEMBENTUK KARAKTER SANTRI :Studi Kasus Tentang Kegiatan Pendidikan Akidah di Lingkungan Pondok Pesantren Nurussalam Cintaharja Kujang Cikoneng Ciamis. S2 thesis, Universitas Pendidikan Indonesia.

[img]
Preview
Text
T_PU_1005040_Title.pdf

Download (291kB) | Preview
[img]
Preview
Text
T_PU_1005040_Abstract.pdf

Download (407kB) | Preview
[img]
Preview
Text
T_PU_1005040_Table_of_Content.pdf

Download (360kB) | Preview
[img]
Preview
Text
T_PU_1005040_Chapter1.pdf

Download (449kB) | Preview
[img] Text
T_PU_1005040_Chapter2.pdf
Restricted to Staf Perpustakaan

Download (625kB)
[img]
Preview
Text
T_PU_1005040_Chapter3.pdf

Download (404kB) | Preview
[img] Text
T_PU_1005040_Chapter4.pdf
Restricted to Staf Perpustakaan

Download (2MB)
[img]
Preview
Text
T_PU_1005040_Chapter5.pdf

Download (315kB) | Preview
[img]
Preview
Text
T_PU_1005040_Bibliography.pdf

Download (511kB) | Preview
[img] Text
T_PU_1005040_Appendix.pdf
Restricted to Staf Perpustakaan

Download (369kB)

Abstract

Penelitian ini membahas tentang Pola Pendidikan Akidah di Pesantren dalam Membentuk Karakter Santri. Penelitian ini melibatkan beberapa responden di antaranya mudir dan wakil mudir pesantren, kepala madrasah Aliyah, seorang wakil kepala madrasah bagian kurikulum sekaligus juga guru akidah, tiga orang guru akidah, dan enam orang santri. Untuk memahami masalah tersebut digunakan teori pendidikan karakter baik dari Lickona maupun Pedoman Kebijakan Karakter Bangsa, yang menjelaskan bahwa karakter yang bersumber olah hati akan melahirkan keimanan dan ketakwaan, yang pada akhirnya akan membentuk karakter yang tangguh. Adapun pertanyaan penelitiannya adalah; 1). Bagaimana perencanaan pendidikan akidah di Pondok Pesantren Nurussalam, 2) Bagaimana proses pembelajaran pendidikan akidah di pesantren Nurussalam dalam membentuk karakter santri, dan 3) Bagaimana evaluasi pembelajaran pendidikan akidah di Pondok Pesantren Nurussalam. Data yang digunakan untuk menjawab pertanyaan di atas diklasifikasikan menjadi dua data primer diambil dari subjek penelitian yaitu mudir dan wakil mudir pesantren, asatidz, dan santri. sedangkan data sekunder diperoleh melalui dokumen resmi dan tidak resmi yang berhubungan dengan materi penelitian yang mendukung data primer. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif analitis dengan pendekatan kualitatif studi kasus. Sedangkan teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara, dokumentasi, dan studi pustaka. Hasil dari pengolahan data yang terkumpul menemukan bahwa; 1) konsep pendidikan akidah yang dilaksanakan di pesantren Nurussalam di samping menggunakan kurikulum Kementrian Agama mereka juga menggunakan kurikulum sendiri yaitu kurikulum Tarbiyah. Penekanan kurikulum Tarbiyah ini difokuskan pada pemahaman makna syahadataian, ma’rifatullah, ma’rifatur rasul, dan ma’rifatul Islam. 2) Proses kegiatan belajar mengajar pendidikan akidah tidak hanya di dalam kelas tetapi juga di luar ruangan kelas, baik di masjid atau asrama. Materi pendidikan akidah bersifat aplikatif, dan mudah dipahami santri serta integratif dengan materi pelajaran yang lain. 3) adapun evaluasi pendidikan akidah tidak hanya bersifat teoritis namun juga evaluasi keseharian aktivitas santri. Kesimpulan dari penelitian ini adalah konsep pendidikan akidah yang diberikan di pesantren Nurussalam telah melahirkan karakter santri yang berani, mahabbah yang tinggi kepada Allah, Rasulullah SAW, dan Islam. Temuan penelitian yang diperoleh adalah temuan makna berupa; karakter berani dan loyal terhadap Islam, Mahabatullah melahirkan karakter ihsan, dan mahabatur rasul melahirkan sikap berqudwah kepada Rasulullah, dimana akhlak beliau adalah Al-Quran. Adapun temuan masalah berupa; materi akidah yang berkaitan dengan jihad lebih menfokuskan kepada makna perang, memaknai thagut kurang arif, dan membatasi santri mendapatkan informasi dari luar baik elektronik maupun cetak. Sebagai akhir penelitian penulis menyampaikan rekomendasi kepada; pihak pesantren Nurussalam hendaklah materi berkaitan makna jihad tidak difokuskan kepada makna perang dalam arti qital., demikian juga dalam memakna thagut supaya lebih arif. Pemerintahan setempat diharapkan untuk sering bersilaturahmi ke pondok pesantren supaya dapat terjalin komunikasi yang baik. Kepada lembaga pendidikan Islam dan para pendidik Islam agar diberikan kesempatan kepada santri mendapatkan informasi seluas-luasnya. Peneliti selanjutnya untuk menemukan model pesantren yang ideal. This study discusses the education pattern of Aqeedah at boarding school on shaping students’ character. This study involves some respondents, such as mudir and vice mudir of school, Aliyah principal, a vice principal of curriculum department as well as Aqeedah teacher, three teachers of Aqeedah, and six students. In order to understand these problem, it is used the theory of character education, both of from Lickona and National Character and Policy Guidelines. These explains character that based on heart, will shape faith and piety, and also the strong character. The research questions are : 1) How is the planning of Aqeedah education at Nurussalam boarding school, 2) How is the learning process at Nurussalam boarding school on shaping students’ character, and 3) How is the evaluation of Aqeedah learning at Nurussalam boarding school. The data used to answer the research questions are classified into primary data from the research subject such as; mudir and vice mudir of school, asatidz, and students and also secondary data from official and unofficial documents that support primary data. The method is descriptive with qualitative case study approach. While data collection techniques are observation, interviews, documentation, and literature study. The result of data analysis found that 1) Aqeedah education framework conducted in Nurussalam boarding school used both ministry of religious curriculum and Narussalam Tarbiyah curriculum. The emphasizing of Tarbiyah curriculum focus on the understanding of syahadatain, marifatullah, ma’rifatur prophet, and ma’rifatul Islam. 2) The process of learning activity of Aqeedah is not only taught inside the classroom but also outside the classroom either in the mosque or dormitory. Learning material of Aqeedah is applicable and easy to learn by student. It integrated with other learning materials. 3) The evaluation of Aqeedah is not theoretical. It involved the evaluation of students’ real life situation. The conclusion of the result is the framework of Aqeedah in Nurussalam boarding school has created students’ character such as brave, mahabbah (which praise to Allah, Rasullah SAW, and Islam). As the result of research, the writer would deliver some recommendations to Nurussalam boarding school not to be focused on the meaning of jihad in the sense of war meaning and also to sense thagut wisely. In order to build good communication, the government is expected to stay in touch with boarding school. Islamic schools and Islamic teachers have to open opportunity to students on accessing information widely. Finally, writer could find out the model of ideal boarding school. Keywords: pattern, aqeedah education, character

Item Type: Skripsi,Tesis,Disertasi (S2)
Subjects: Universitas Pendidikan Indonesia > Sekolah Pasca Sarjana > Pendidikan Umum/Nilai S-2
Divisions: Sekolah Pasca Sarjana > Pendidikan Umum/Nilai S-2
Depositing User: Riki N Library ICT
Date Deposited: 22 Nov 2013 02:21
Last Modified: 22 Nov 2013 02:21
URI: http://repository.upi.edu/id/eprint/3342

Actions (login required)

View Item View Item