BOVEN DIGOEL 1927-1943 : Kawah candradimuka bagi para tokoh nasional pni baru

Rahmayanti, Rosa Rizky (2017) BOVEN DIGOEL 1927-1943 : Kawah candradimuka bagi para tokoh nasional pni baru. S1 thesis, Universitas Pendidikan Indonesia.

[img] Text
S_SEJ_1305136_Title.pdf

Download (110kB)
[img] Text
S_SEJ_1305136_Table of Content.pdf

Download (98kB)
[img] Text
S_SEJ_1305136_Abstract.pdf

Download (171kB)
[img] Text
S_SEJ_1305136_Chapter1.pdf

Download (213kB)
[img] Text
S_SEJ_1305136_Chapter 2.pdf
Restricted to Staf Perpustakaan

Download (278kB)
[img] Text
S_SEJ_1305136_Chapter 3.pdf

Download (306kB)
[img] Text
S_SEJ_1305136_Chapter 4.pdf
Restricted to Staf Perpustakaan

Download (761kB)
[img] Text
S_SEJ_1305136_Chapter 5.pdf

Download (103kB)
[img] Text
S_SEJ_1305136_Bibliography.pdf

Download (147kB)
[img] Text
S_SEJ_1305136_Appendix.pdf
Restricted to Staf Perpustakaan

Download (133kB)
Official URL: http://repository.upi.edu

Abstract

Skripsi ini berjudul “Skripsi ini berjudul “BOVEN DIGOEL 1927-1943: Kawah Candradimuka Bagi Para Tokoh Nasional PNI Baru”. Masalah utama dalam penulisan skripsi ini ialah “Bagaimana perjuangan tiga tokoh nasionalis Indonesia yaitu Moh. Hatta, Sutan Sjahrir dan Mohammad Bondan ketika diasingkan di Boven Digoel pada tahun 1927-1943”. Dari masalah utama tersebut kemudian dibagi menjadi beberapa pertanyaan penelitian yaitu: (1) Bagaimana latar belakang pendirian kamp pengasingan Boven Digoel pada tahun 1927-1943? (2) Bagaimana latar belakang Moh, Hatta, Sutan Sjahrir dan Mohammad Bondan diasingkan di Boven Digoel? (3) Bagaimana perjuangan Moh. Hatta, Sutan Sjahrir dan Mohammad Bondan menghadapi tantangan kehidupan pengasingan? Metode yang digunakan dalam skripsi ini ialah metode historis melalui tahapan-tahapan yaitu heuristik, kritik, interpretasi dan historiografi. Berdasarkan hasil penelitian, dapat diungkapkan bahwa adanya penangkapan dan pengasingan tokoh-tokoh nasionalis Indonesia di antaranya yang menjadi fokus kajian pembahasan dalam skripsi ini yaitu tokoh Moh. Hatta, Sutan Sjahrir dan Mohammad Bondan. Ketiganya harus berjuang menghadapi kehidupan pengasingan di Boven Digoel. Boven Digoel merupakan suatu tempat pengasingan yang mana di dalamnya nasionalisme para penghuninya dipertaruhkan. Apakah mereka akan memilih untuk bekerja sama dengan pemerintah kolonial ataukah mereka akan tetap berpegang teguh pada prinsip dan tujuan untuk mengusir penjajahan, meskipun dihadapkan pada keadaan yang sulit di tempat pengasingan. Tokoh nasionalis yang menjadi fokus kajian dalam skripsi ini, lebih memilih masuk ke dalam golongan naturalis yaitu golongan yang menolak bekerja untuk pemerintah kolonial. Hal tersebut menunjukkan bahwa meskipun mereka berada di tempat pengasingan, mereka tetap berpegang teguh pada nasionalisme mereka. Di dalam pengasinganpun, ketiganya berusaha menanamkan nilai-nilai nasionalisme kepada sesama penghuni Boven Digoel.---------- This research is entitled "BOVEN DIGOEL 1927-1943: Crater Candradimuka For New National PNI Characters". The main problem in writing this research is "How is the struggle of three Indonesian nationalist leaders, Moh. Hatta, Sutan Sjahrir and Mohammad Bondan when exiled in Boven Digoel in 1927-1943". From the main problem is then divided into several research questions are: (1) How the background of the establishment of Boven Digoel exile camp in 1927-1943? (2) How did the backgrounds of Moh, Hatta, Sutan Sjahrir and Mohammad Bondan be exiled in Boven Digoel? (3) How did Moh. Hatta, Sutan Sjahrir and Mohammad Bondan face the challenge of life of seclusion? The method used in this research is the historical method through the stages of heuristics, criticism, interpretation and historiography. Based on the results of research, it can be disclosed that the arrest and exile of nationalist figures of Indonesia among which the focus of study of the discussion in this thesis is the character Moh. Hatta, Sutan Sjahrir and Mohammad Bondan. All three must fight against the life of exile in Boven Digoel. Boven Digoel is a place of exile in which the nationalism of its inhabitants is at stake. Will they choose to cooperate with the colonial government or they will stick to the principle and purpose of expelling the occupation, despite the difficult circumstances of the exile. Nationalist figures who became the focus of the study in this thesis, prefer to enter into the group of naturalists who refused to work for the colonial government. It shows that even though they are in exile, they still cling to their nationalism. In exile, too, all three attempted to instill the values of nationalism among the people of Boven Digoel.

Item Type: Skripsi,Tesis,Disertasi (S1)
Additional Information: No. Panggil : S SEJ RAH b-2017; Pembimbing : I. Suwirta, II. Ayi Budi Santosa; NIM : 1305136
Uncontrolled Keywords: Moh. Hatta, Sutan Sjahrir, Mohammad Bondan, kamp pengasingan Boven Digoel, exile camp in Boven Digoel
Subjects: H Social Sciences > H Social Sciences (General)
H Social Sciences > HN Social history and conditions. Social problems. Social reform
Divisions: Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial > Pendidikan Sejarah
Depositing User: DAM staf
Date Deposited: 26 Sep 2018 04:01
Last Modified: 26 Sep 2018 04:01
URI: http://repository.upi.edu/id/eprint/31962

Actions (login required)

View Item View Item