PASUKAN GERILYA RAKYAT SARAWAK-PASUKAN RAKYAT KALIMANTAN UTARA (PGRS-PARAKU) DI KALIMANTAN BARAT: DARI KAWAN SAMPAI LAWAN BAGI INDONESIA TAHUN 1963-1974

Nugraha, Dika (2017) PASUKAN GERILYA RAKYAT SARAWAK-PASUKAN RAKYAT KALIMANTAN UTARA (PGRS-PARAKU) DI KALIMANTAN BARAT: DARI KAWAN SAMPAI LAWAN BAGI INDONESIA TAHUN 1963-1974. S1 thesis, Universitas Pendidikan Indonesia.

[img] Text
S_SEJ_1301402_Title.pdf

Download (70kB)
[img] Text
S_SEJ_1301402_Table_of_content.pdf

Download (182kB)
[img] Text
S_SEJ_1301402_Abstract.pdf

Download (140kB)
[img] Text
S_SEJ_1301402_Chapter 1.pdf

Download (172kB)
[img] Text
S_SEJ_1301402_Chapter 2.pdf
Restricted to Staf Perpustakaan

Download (252kB)
[img] Text
S_SEJ_1301402_Chapter 3.pdf

Download (191kB)
[img] Text
S_SEJ_1301402_Chapter 4.pdf
Restricted to Staf Perpustakaan

Download (378kB)
[img] Text
S_SEJ_1301402_Chapter 5.pdf

Download (151kB)
[img] Text
S_SEJ_1301402_Bibliography.pdf

Download (146kB)
[img] Text
S_SEJ_1301402_Appendix.pdf
Restricted to Staf Perpustakaan

Download (149kB)
Official URL: http://repository.upi.edu

Abstract

Skripsi ini berjudul “Pasukan Gerilya Rakyat Sarawak-Pasukan Rakyat Kalimantan Utara (PGRS-PARAKU) di Kalimantan Barat: dari Kawan sampai Lawan bagi Indonesia tahun 1963-1974”. Masalah utama yang diangkat pada penulisan skripsi ini yaitu “Bagaimana dinamika PGRS-PARAKU dari kawan sampai lawan bagi Indonesia tahun 1963-1974 terkait dengan situasi politik di Indonesia?”. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses PGRS-PARAKU dari kawan sampai lawan bagi Indonesia tahun 1963-1974 terkait dengan situasi politik di Indonesia. Metode yang digunakan yaitu metode historis yang terdiri dari empat tahapan penelitian, antara lain: heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Hasil temuan dalam penelitian ini mengungkapkan bahwa terdapat kelompok-kelompok yang menentang masuknya Malaya, Sabah, Singapura, Sarawak, dan Brunei ke dalam Negara Federasi Malaysia, sehingga melahirkan PGRS-PARAKU pada tahun 1963. PGRS-PARAKU awalnya didukung oleh pemerintah Indonesia pada masa Presiden Soekarno untuk melawan neokolonialisme Inggris atas Malaysia. Akan tetapi ketika pemerintahan Indonesia dibawah Presiden Soeharto, maka arah politik Indonesia terhadap PGRS-PARAKU pun berubah sehingga menjadikannya sebagai musuh bersama. Paradigma yang berkembang yaitu PGRS-PARAKU adalah komunis, sehingga komunis pada masa “Orde Baru” harus dimusnahkan. Akhirnya pada saat itu dilakukanlah beberapa operasi militer, baik itu operasi teritorial maupun operasi militer strategis untuk menumpas PGRS-PARAKU. Bahkan pada tahun 1967 pun terjadi sebuah peristiwa yakni Peristiwa Mangkok Merah, dimana terjadi Demonstrasi Masyarakat Dayak terhadap etnis China di Kalimantan Barat. Kemudian, ketika pemerintah Malaysia mengadakan beberapa operasi, baru akhirnya pemimpin PGRS-PARAKU menyerahkan diri dan terdapat perjanjian perdamaian pada tahun 1974 yang menjadi akhir dari PGRS-PARAKU.---------- This bachelor thesis titled " Pasukan Gerilya Rakyat Sarawak-Pasukan Rakyat Kalimantan Utara (PGRS-PARAKU) in West Kalimantan: From Friend to Enemy for Indonesia 1963-1974". The main issue raised in this bachelor thesis is "How was the dynamics of PGRS PARAKU from friend to enemy for Indonesia 1963-1974 related with the political situation in Indonesia?". This research was done with the aim to analyze the process of PGRS PARAKU from friend to enemy for Indonesia in 1963-1974 related with the political situation in Indonesia. This research using a historical method that consists of four research stages: heuristic, critic, interpretation, and historiography. The findings in this research reveals that there were groups opposed the entry of Malaya, Sabah, Singapore, Sarawak and Brunei to be a part of the Federation of Malaysia, so that causing the establishment of PGRS PARAKU in 1963. The PGRS PARAKU originally supported by Indonesia Government under President Soekarno to against neocolonialism of England in Malaysia. But when Indonesia was under the government of President Soeharto, the direction of Indonesian politics toward the PGRS PARAKU was also changed which made it as a common enemy. The paradigm that developed at that time was that the PGRS PARAKU is communist, the communists under the “Orde Baru” era must be destroyed. Finally, at that time was carried out several military operations, including the territorial operations and strategic military operations to crush the PGRS PARAKU. Even in 1967 occurred some events called Mangkok Merah Event, where the Dayak people did the demonstration against the Chinese ethnic in West Kalimantan. When the Malaysian Government held several operations, the leaders of PGRS PARAKU were surrender and made the peace agreement in 1974 that became the end of the PGRS PARAKU.

Item Type: Thesis (S1)
Additional Information: No. Panggil: S SEJ NUG p-2017; Pembimbing :I.Didin Saripudin , II.Farida sarimaya; NIM:1301402
Uncontrolled Keywords: Peristiwa Mangkok Merah, Operasi Teritorial, Operasi Militer Strategis, PGRS-PARAKU, Mangkok Merah Event, Territorial Operations, Strategic Military Operation,
Subjects: D History General and Old World > DS Asia
Divisions: Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial > Pendidikan Sejarah
Depositing User: DAM staf
Date Deposited: 26 Sep 2018 02:23
Last Modified: 26 Sep 2018 02:23
URI: http://repository.upi.edu/id/eprint/31600

Actions (login required)

View Item View Item