ANALISIS MOTIF RAGAM HIAS PADA ALAT TRANSPORTASI TRADISIONAL KERATON CIREBON

Triawan, Denny Wahyu (2017) ANALISIS MOTIF RAGAM HIAS PADA ALAT TRANSPORTASI TRADISIONAL KERATON CIREBON. S2 thesis, Universitas Pendidikan Indonesia.

[img] Text
T_SN_1502891_Title.pdf

Download (460kB)
[img] Text
T_SN_1502891_Abstract.pdf

Download (248kB)
[img] Text
T_SN_1502891_Table_of_Content.pdf

Download (266kB)
[img] Text
T_SN_1502891_Chapter1.pdf

Download (375kB)
[img] Text
T_SN_1502891_Chapter2.pdf
Restricted to Staf Perpustakaan

Download (5MB)
[img] Text
T_SN_1502891_Chapter3.pdf

Download (398kB)
[img] Text
T_SN_1502891_Chapter4.pdf
Restricted to Staf Perpustakaan

Download (12MB)
[img] Text
T_SN_1502891_Chapter5.pdf

Download (256kB)
[img] Text
T_SN_1502891_Bibliography.pdf

Download (265kB)
[img] Text
T_SN_1502891_Appendix.pdf
Restricted to Staf Perpustakaan

Download (727kB)
Official URL: http://repository.upi.edu

Abstract

Pedati Gede Pekalangan, Kereta Kencana Paksinagaliman, Singabarong, dan Jempana merupakan peninggalan bersejarah Pangeran Cakrabuana, Keraton Kasepuhan dan Kanoman Cirebon sebagai hasil pengaruh budaya agama Hindu, Budha, dan Islam dengan akulturasi unsur kebudayan asing seperti Cina, India, dan Timur Tengah menghasilkan kebudayaan Cirebon. Adapun rumusan masalah penelitian ini berkenaan dengan aspek bentuk, hiasan, dan makna simbolik. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan tujuan agar dapat diperoleh gambaran sistematis dan kesimpulan yang sahih sesuai realita di lapangan. Teknik yang dilakukan adalah observasi langsung ke lapangan dan studi pustaka melalui pengkajian terhadap sumbersumber buku, reproduksi foto dan gambar, serta dari jaringan internet. Dari hasil penelitian dapat penulis simpulkan bahwa pedati dan kereta kencana lainnya adalah merupakan bukti majunya masyarakat Cirebon pada waktu itu. Pedati Gede Pekalangan dibuat oleh Pangeran Cakrabuana sekitar tahun 1485, Kereta Kencana Paksinagaliman dibuat sekitar tahun 1428, Kereta Kencana Singabarong dibuat sekitar tahun 1431, dan Kereta Kencana Jempana dibuat sekitar tahun 1434 dirancang oleh Pangeran Cakrabuana sebagai inisiator dan dibantu oleh Panembahan Losawu (Losari) sebagai perancang dan diukir dan dipahat oleh Ki Notoguna dan dibuat di daerah Trusmi. Terdapat motif naga, burung, gajah, tumbuhan, serta motif hias megamendung dan wadasan. Falsafah Jawa tidak lepas di balik nilai-nilai yang terkandung pada pedati dan kereta kencana ini. Bertolak pada kenyataan di atas, penulis mengharapkan dapat memberikan gambaran mengenai kebudayaan tradisional yang dapat menjadi bekal untuk generasi mendatang bahwa kebudayaan tradisional merupakan akar bagi lahirnya kebudayaan modern.----------Pedati Gede Pekalangan, Kereta Kencana Paksinagaliman, Singabarong, and Jempana a historic relic Prince Cakrabuana, Palace Kasepuhan and Kanoman Cirebon as a result of cultural influences of Hinduism, Buddhism, and Islam by acculturation elements of the cultures of foreign like China, India, and the Middle East produce culture Cirebon . The formulation of the research problem is about aspects of form, decoration, and symbolic meaning. The research method used is descriptive qualitative with the aim to obtain a systematic picture and valid conclusion according to reality in the field. Techniques carried out are direct observation to the field and literature study through the study of book sources, photo and image reproduction, and from the internet network. From the results of the research can the authors conclude that the carts and other trains are the proof of the advancement of Cirebon community at that time. Pedati Gede Pekalangan was made by Prince Cakrabuana around 1485, Kereta Kencana Paksinagaliman was made around 1428, Kereta Kencana Singabarong was made around 1431, and Kereta Kencana Jempana was made around 1434 designed by Prince Cakrabuana as initiator and assisted by Panembahan Losawu (Losari) as Designer and carved and carved by Ki Notoguna and made in Trusmi. There are dragon, birds, elephants, plants, and decorative motifs megamendung and wadasan. Javanese philosophy can not be separated behind the values contained in these carts and trains. Based on the above facts, the writer hopes to give an idea about traditional culture that can be a provision for future generations that traditional culture is the root for the birth of modern culture.

Item Type: Skripsi,Tesis,Disertasi (S2)
Additional Information: No. Panggil:T SN WAH a-2017; Pembimbing: I. Zakaria S. Soeteja; NIM: 1502891
Uncontrolled Keywords: Ragam Hias, Transportasi, Tradisional, Cirebon.
Subjects: L Education > L Education (General)
N Fine Arts > NX Arts in general
Divisions: Sekolah Pasca Sarjana > Pendidikan Seni S-2
Depositing User: Mrs. Santi Santika
Date Deposited: 23 Aug 2018 07:39
Last Modified: 23 Aug 2018 07:39
URI: http://repository.upi.edu/id/eprint/31035

Actions (login required)

View Item View Item