PERBANDINGAN PEMIKIRAN TENTANG REVOLUSI INDONESIA ANTARA SOEKARNO DAN TAN MALAKA (1945-1949)

Prameswardani, Indari (2016) PERBANDINGAN PEMIKIRAN TENTANG REVOLUSI INDONESIA ANTARA SOEKARNO DAN TAN MALAKA (1945-1949). S1 thesis, Universitas Pendidikan Indonesia.

[img]
Preview
Text
S_SEJ_1106631_Title.pdf

Download (12kB) | Preview
[img]
Preview
Text
S_SEJ_1106631_Abstract.pdf

Download (207kB) | Preview
[img]
Preview
Text
S_SEJ_1106631_Table_of_content.pdf

Download (198kB) | Preview
[img]
Preview
Text
S_SEJ_1106631_Chapter1.pdf

Download (296kB) | Preview
[img] Text
S_SEJ_1106631_Chapter2.pdf
Restricted to Staf Perpustakaan

Download (335kB)
[img]
Preview
Text
S_SEJ_1106631_Chapter3.pdf

Download (322kB) | Preview
[img] Text
S_SEJ_1106631_Chapter4.pdf
Restricted to Staf Perpustakaan

Download (647kB)
[img]
Preview
Text
S_SEJ_1106631_Chapter5.pdf

Download (280kB) | Preview
[img]
Preview
Text
S_SEJ_1106631_Bibliography.pdf

Download (270kB) | Preview
[img] Text
S_SEJ_1106631_Appendix.pdf
Restricted to Staf Perpustakaan

Download (284kB)
Official URL: http://repository.upi.edu

Abstract

Penelitian ini berjudul Perbandingan Pemikiran Tentang Revolusi Indonesia Antara Soekarno dan Tan Malaka (1945-1949). Penelitian ini dilatar belakangi oleh pemikiran tokoh revolusioner, yaitu Soekarno dan Tan Malaka mengenai revolusi Indonesia 1945-1949. Pemikiran keduanya menjadi modal untuk melawan kolonialisme bangsa asing di Indonesia, baik lewat tulisan maupun lisan. Soekarno mampu mengantar bangsa Indonesia menuju kemerdekaan, hingga ia terpilih menjadi presiden Republik Indonesia yang pertama. Namun kemerdekaan yang diraih bukan menjadi akhir dari perjuangan bangsa Indonesia. Pembentukan pemerintahan dan kembalinya Belanda ke Indonesia menjadi tantangan yang harus dilalui bangsa Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaannya. Permasalahan utama yang diangkat dalam penelitian ini adalah bagaimana perbandingan pemikiran tentang Revolusi Indonesia antara Soekarno dan Tan Malaka (1945-1949)? Pemikiran revolusioner Soekarno dan Tan Malaka terbentuk dari pengalaman, baik lingkungan tempat keduanya tinggal, lingkungan pendidikan, serta peran organisasi yang diikuti keduanya. Keduanya sangat menentang sistem kapitalisme, feodalisme, kolonialisme, dan imperialisme yang dijalankan oleh negara Barat (Eropa). Namun pendirian Soekarno berubah ketika ia memilih kooperatif dengan pihak Jepang, yang berhasil mengalahkan bangsa Barat. Berbeda dengan Tan Malaka yang tetap konsisten bersikap non-kooperatif terhadap bangsa manapun yang melakukan praktik kolonialisme atau imperialisme. Saat bangsa Indonesia berjuang mempertahankan kemerdekaan, pihak Sekutu tidak menginginkan diplomasi dengan Soekarno, karena ia merupakan kolaborator Jepang. Hingga Soekarno mempercayakan Sutan Sjahrir sebagai delegasi Indonesia, untuk berdiplomasi dengan pihak Sekutu dan Belanda. Tan Malaka yang tidak setuju dengan keputusan Soekarno, memilih menjadi oposisi dengan mempropagandakan pertempuran dan membentuk organisasi revolusioner, Persatuan Perjuangan. Menurut Tan Malaka cara mempertahankan kemerdekaan Indonesia adalah dengan cara revolusi, merampas hak milik bangsa asing yang berada di Indonesia. Tan Malaka memiliki keinginan untuk membentuk pemerintahan sosialis di Republik Indonesia, sementara Soekarno menginginkan pemerintahan yang berdasarkan persatuan Indonesia, gotong royong. Soekarno yang dianggap menjadi penjahat perang oleh pihak sekutu, membuatnya berinisiatif untuk memberikan jabatan pemimpin revolusi kepada Tan Malaka, jika Soekarno-Hatta sudah tidak berdaya. Dalam hal sistem pemerintahan keduanya sama-sama menghendaki sistem partai tunggal agar tidak terjadi perpecahan dalam politik Republik Indonesia. Keduanya juga sepaham mengenai sistem demokrasi untuk diterapkan di Indonesia, karena keduanya sangat peduli akan hak asasi manusia dalam mengeluarkan pendapat. Dampak dari pemikiran revolusi Tan Malaka adalah banyaknya pengikut yang mengaguminya, namun keselamatan dirinya terancam, ia dieksekusi karena dianggap sebagai komunis berbahaya. Sementara bagi Soekarno adalah kepercayaan rakyat Indonesia terhadap kepemimpinannya, namun munculnya oposisi-oposisi yang mengancam pemerintahannya. ;---The title of this study is the comparison of consideration of Indonesian revolution between Soekarno and Tan Malaka (1945-1949). The background of this study is considerations of revolutionaries, which were from Soekarno and Tan Malaka thoughts about Indonesian revolution (1945-1949). Their considerations became an asset for Indonesian to fight back against colonialism of invaders, either through written or oral. With all of the efforts, Sokarno was able to bring Indonesian to its Independence, until he was elected as the first president of indonesia. Yet, the independency is not the end of Indonesians’ struggle. The ins and outs of government formation and the return of the dutch became obstacles that need to be passed by Indonesian to defend their independence. So, the problem of this study is how is the comparison of consideration of Indonesian revolution between Soekarno and Tan Malaka (1945-1949)?. The revolutionary consideration of Soekarno and Tan Malaka formed by experiences, either it is from their living environment, school environment, or even from the organizations. Both of them are against capitalism, feodalism, colonialism, and imperialism that are run by western country (Europe). However, Soekarno’s principle changed, when he chose to become a collaborator for Japan who successfully defeat the western. It is oppositely with Tan Malaka who consistantly act non-cooperatively to othe nation that is using colonialism and imperialism. When Indonesian fight to defend their independence, the ally didn’t want to do a diplomacy with Soekarno, because of his status as a japanese collaborator. Until the time that Soekarno entrusting Sutan Sjahrir to be an Indonesian delegation. Tan Malaka who does not agree with Soekarno’s decision, choose to be an oposition with propagandize a war and creating revolutionaries organization, Persatuan Perjuangan. According to Tan Malaka, the way to defend independence of Indonesia is in the way of revolutionary, robbing foreigners’ right. Tan Malaka has a desire to create a socialist government in republic of Indonesia, while Soekarno has a desire to create a government based on the unity of Indonesian, mutual cooperation. Soekarno who was considered as a war criminal by the ally gave him to initiatively give his position as a leader of revolution to Tan Malaka, if he had became powerless. In a matter of government system, both of them are agreeing a single party system to avoid a disunity of politics of Indonesia. Both of them also have the same perspective about democracy system to be applied in Indonesia, because they were really care about human’s right in giving an opinion. The result of the revolutionary consideration of Tan Malaka is that he got a lot of followers who adore him, but his life is threatened, he was executed, because he was considered as a dangerous communist. Meanwhile, Soekarno is the Indonesian people’s trust of his leadership, but there are opositions who threaten his legacy.

Item Type: Skripsi,Tesis,Disertasi (S1)
Additional Information: No. Panggil : S SEJ PRA p-2016; Pembimbing : I. Suwirta, II. Farida Sarimaya.
Uncontrolled Keywords: Revolusi, Soekarno, Tan Malaka, Diplomasi, Pertempuran, Revolution, Soekarno, Tan Malaka, Diplomacy, Battle.
Subjects: D History General and Old World > D History (General)
Divisions: Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial > Pendidikan Sejarah
Depositing User: Mr mhsinf 2017
Date Deposited: 13 Oct 2017 06:56
Last Modified: 13 Oct 2017 06:56
URI: http://repository.upi.edu/id/eprint/27284

Actions (login required)

View Item View Item