STRATEGI TINDAK TUTUR DIREKTIF GURU DAN RESPONS WARNA AFEKTIF SISWA(Kajian Pragmatik dan Implikasinya terhadap Pembelajaran Bahasa Indonesia di SMP Bandar Lampung)

Sumarti, - (2015) STRATEGI TINDAK TUTUR DIREKTIF GURU DAN RESPONS WARNA AFEKTIF SISWA(Kajian Pragmatik dan Implikasinya terhadap Pembelajaran Bahasa Indonesia di SMP Bandar Lampung). eprint_fieldopt_thesis_type_phd thesis, Universitas Pendidikan Indonesia.

[img]
Preview
Text
D_BIND_1201101_Title.pdf

Download (60kB) | Preview
[img]
Preview
Text
D_BIND_1201101_Abstract.pdf

Download (161kB) | Preview
[img]
Preview
Text
D_BIND_1201101_Table_of_content.pdf

Download (185kB) | Preview
[img]
Preview
Text
D_BIND_1201101_Chapter1.pdf

Download (221kB) | Preview
[img] Text
D_BIND_1201101_Chapter2.pdf
Restricted to Staf Perpustakaan

Download (572kB)
[img]
Preview
Text
D_BIND_1201101_Chapter3.pdf

Download (498kB) | Preview
[img] Text
D_BIND_1201101_Chapter4.pdf
Restricted to Staf Perpustakaan

Download (1MB)
[img]
Preview
Text
D_BIND_1201101_Chapter5.pdf

Download (217kB) | Preview
[img]
Preview
Text
D_BIND_1201101_Bibliography.pdf

Download (319kB) | Preview
[img] Text
D_BIND_1201101_Appendix.pdf
Restricted to Staf Perpustakaan

Download (1MB)
Official URL: http://repository.upi.edu

Abstract

Pemilihan strategi tindak tutur direktif guru (STTDG) dalam pembelajaran sangat penting karena berkaitan erat dengan respons warna afektif siswa (RWAS). STTDG yang mendapat respons warna afektif positif siswa mampu mengondisikan pembelajaran yang menyenangkan karena tercipta komunikasi yang baik serta tercapainya kebutuhan pertumbuhan siswa. Tujuan penelitian ini ialah mendeskripsikan STTDG dan RWAPS serta mengimplikasikannya pada model pembelajaran yang berbasis STTDG-RWAPS. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif-fenomenologis. Data penelitian dikumpulkan dengan teknik observasi, sadap rekam, angket, dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fungsi komunikasi TTDG terdiri atas memerintah, meminta, melarang, menyarankan, menanya, dan mengajak; realisasi TTDG secara langsung dan tidak langsung; strategi kesantunan berbahasa TTDG meliputi kesantunan positif dan negatif. STDG yang mendapat RWAPS ialah (a) tuturan langsung, (b) mengandung unsur pujian, (c) menggunakan sapaan penanda sayang dan nama, (d) menghindari penggunaan kata saya dan kamu, (e) melibatkan penutur dan mitra tutur dalam kegiatan, (f) menggunakan penanda permintaan halus, (g) mengandung lelucon, (h) mempertimbangkan keinginan mitra tutur, (i) mengupayakan kesepakatan, dan (j) tuturan tidak langsung. Sementara itu, STDG yang be-RWANS tuturan yang (a) tidak langsung mengandung ironi, (b) menyapa dengan kata seru, (c) membandingkan, dan (d) mengandung celaan. Sebagai implikasi temuan penelitian ini terhadap pembelajaran, disusun model pembelajaran sinektik berbasis STTDG-RWAPS yang mengupayakan proses pembelajaran berlangsung kondusif dan menyenangkan siswa. Dengan demikian, penulis sarankan agar guru hendaknya bertindak tutur direktif dengan strategi yang dapat memunculkan RWAPS dan penelitian selanjutnya perlu dilakukan untuk menguji efektivitas model pembelajaran sinektik berbasis STTDG-RWAPS secara kuantitatif. The choice of teacher’s directive speech act strategy (TDSA) in learning is very important because strongly related with student’s affective color response (SACR). TDST which get student’s affective color response capable to condition enjoyable learning because it creates good communication and accomplish student growth need. Method which is used in this study is qualitative-phenomenology. Subject of study consist of four teachers of Bahasa Indonesia who teach in SMPN 22 Bandar Lampung and SMP IT Fitrah Insani Bandar Lampung. Data of study is collected by observation technique, note technique, bug-record, questionnaire, and interview. Result of study show that function of directive speech act (DSA) consist of commanding, requesting, forbidding, suggesting, asking and inviting; realization of directive speech act is direct and indirect; the strategy of DSA politeness speaking comprise positive and negative politeness. TDSA which get SACR are: (a) direct speech, (b) contain praise element, (c) use greeting as sign of love and name; (d) avoid the use of words saya and kamu, (e) involve speaker and interlocutor in activity, (f) use sign of polite request, (g) contain a joke, (h) consider interlocutor desire; (i) strive for agreement, (j) indirect speech. Meanwhile, TDSA-SACR is speech which (a) contain irony indirectly, (b) greet with interjection, (c) compare, and (d) contain denunciaton. As implication of this finding study toward learning, sinectic learning model based on TDSA-SACR show that learning process is conducive and enjoyable for student. Therefore, the author recommend teacher to act directive speech with strategy which can generate SACR and next research need to be conducted to test the effectiveness of sinectic learning model based on TDSA-SACR quantitatively.

Item Type: Skripsi,Tesis,Disertasi (eprint_fieldopt_thesis_type_phd)
Additional Information: No. Panggil: D_BIND_SUM s-2015; Promotor : I. Shihabuddin, II. Vismaia Sabariah Damaianti,III. Syamsu Yusuf LN.
Uncontrolled Keywords: Direktif Guru, Respons, Siswa dan Pendidikan dasar
Subjects: L Education > L Education (General)
L Education > LB Theory and practice of education > LB1501 Primary Education
P Language and Literature > PN Literature (General)
Divisions: Sekolah Pasca Sarjana > Pendidikan Bahasa Indonesia S-3
Depositing User: Mr. Cahya Mulyana
Date Deposited: 11 Oct 2016 07:57
Last Modified: 11 Oct 2016 07:57
URI: http://repository.upi.edu/id/eprint/22248

Actions (login required)

View Item View Item