PANDANGAN SUTAN SJAHRIR DAN SOEKARNO TERHADAP PEMERINTAHAN DAN NEGARA INDONESIA 1945-1966

Kartika, Rika (2015) PANDANGAN SUTAN SJAHRIR DAN SOEKARNO TERHADAP PEMERINTAHAN DAN NEGARA INDONESIA 1945-1966. S1 thesis, Universitas Pendidikan Indonesia.

[img]
Preview
Text
S_SEJ_1100626_Title.pdf

Download (154kB) | Preview
[img]
Preview
Text
S_SEJ_1100626_Abstract.pdf

Download (204kB) | Preview
[img]
Preview
Text
S_SEJ_1100626_Table_of_content.pdf

Download (138kB) | Preview
[img]
Preview
Text
S_SEJ_1100626_Chapter1.pdf

Download (319kB) | Preview
[img] Text
S_SEJ_1100626_Chapter2.pdf
Restricted to Staf Perpustakaan

Download (332kB)
[img]
Preview
Text
S_SEJ_1100626_Chapter3.pdf

Download (336kB) | Preview
[img] Text
S_SEJ_1100626_Chapter4.pdf
Restricted to Staf Perpustakaan

Download (758kB)
[img]
Preview
Text
S_SEJ_1100626_Chapter5.pdf

Download (197kB) | Preview
[img]
Preview
Text
S_SEJ_1100626_Bibliography.pdf

Download (236kB) | Preview
Official URL: http://repository.upi.edu/

Abstract

Sjahrir dan Soekarno adalah dua tokoh pendiri bangsa yang sama-sama berjuang demi kemerdekaan Indonesia. Mereka berjuang sejak masa kolonial Belanda, keduanya merupakan tokoh yang menonjol dalam melawan penjajahan Belanda. Keberanian mereka dalam melawan Belanda, membuat mereka kerap kali dipenjarakan atau diasingkan oleh Belanda. Namun, keduanya memilih jalan yang berbeda ketika masa pendudukan Jepang. Soekarno bersama Hatta memilih untuk bekerjasama dengan Jepang, sedangkan Sjahrir memilih untuk bergerak di bawah tanah dan menolak kerjasama dengan Jepang.Sejak kemerdekaan Indonesia, Soekarno menempati posisi sebagai presiden dan Sjahrir sebagai perdana menteri. Sebagai perdana menteri Sjahrir juga tampil sebagai perwakilan Indonesia dalam perundingan Linggarjati, melalui jalan diplomasi perjuangan, Indonesia memperoleh kedaulatan secara de facto. Setelah pengakuan kedaulatan pada akhir 1949, Sjahrir sebagai warga negara biasa bekerja mengembangkan Partai Sosialis Indonesia (PSI). Pada pemilu tahun 1955, Sjahrir dan Soekarno bersaing dalam pemilihan umum, PSI yang merupakan kendaraan politik Sjahrir kalah dari PNI yang merupakan partai asuhan Soekarno, ketika itu PNI merupakan partai pemenang pemilu. Ketegangan diantara keduanya semakin meruncing ketika pemberontakan PRRI di Sumatra Barat dan Permesta di Sulawesi Selatan tahun 1958, hal ini disebabkan karena kader PSI menjadi tokoh sentral dalam pemberontakan tersebut. Akibat dari pemberontakan PRRI dan Permesta, akhirnya PSI harus dibubarkan oleh pemerintah pada tahun 1960. Sejak saat itu Sjahrir tidak lagi terjun dalam dunia politik Indonesia. Pada masa Demokrasi Terpimpin, Soekarno menunjukan kuasanya dengan memenjarakan tokoh yang menjadi lawan politiknya, salah satunya Sjahrir. tanggal 16 Januari 1962, pukul empat pagi, Sjahrir ditangkap di rumahnya di Jalan Jawa No. 61 (sekarang, H.O.S Cokroaminoto). ----------Both Sjahrir and Sukarno were the two founders of the nation struggling for Indonesian independence. They struggled since the Dutch colonial period, both of which were the prominent figures in the fight against Dutch colonialism. Their bravery against the Dutch led them to imprisonment or exile by the Dutch. Nevertheless, both chose a different path during the Japanese occupation. Soekarno and Hatta chose to work together with Japan, while Sjahrir chose to move under the ground and refuse to cooperate with Japan. Since the independence of Indonesia, Sukarno was assigned to be the president and Sjahrir as the prime minister. As a Prime Minister, Sjahrir appeared as the representative of Indonesia in Linggarjati Agreement. Through the struggle of diplomacy, Indonesia gained de facto sovereignty. After the acknowledgement of Indonesia’s sovereignty by the Dutch at the end 1949, Sjahrir as a common citizen worked to build up the Indonesian Socialist Party (PSI). In the 1955 election, Sjahrir and Sukarno competed. Sjahrir, whose political vehicle was PSI, lost to PNI which was a party led by Soekarno. At the time, PNI was the winning party of the election. The tension between the two grew as the PRRI rebellion in West Sumatra and Permesta rebellion in South Sulawesi arose in 1958. This was due to a cadre of PSI who became the central figure in the rebellion. In the era of Guided Democracy, Sukarno showed his power by imprisoning figures who are his political opponent, in which one of them was Sjahrir. As a result of PRRI and Permesta, eventually PSI to be dissolved by the government in 1960. Since then Sjahrir no longer engage in the Indonesia political. At the time of Guided Democracy, Sukarno showed its power by imprisoning leaders who became his political opponent, one of which Sjahrir. On January 1962, at 4 a.m, he was arrested in his house at jalan H.O.S Cokroaminoto no. 61.

Item Type: Skripsi,Tesis,Disertasi (S1)
Additional Information: No. Panggil: S SEJ KAR p-2015 ; Pembimbing: I. Suwirta, II. Farida Sarimaya
Uncontrolled Keywords: soekarno, sjahrir, indonesia, pemikiran, pemerintahan. politik, pandangan, ideas, government. politics, views
Subjects: D History General and Old World > DS Asia
L Education > L Education (General)
Divisions: Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial > Pendidikan Sejarah
Depositing User: Mr. Tri Agung
Date Deposited: 08 Aug 2016 02:58
Last Modified: 08 Aug 2016 02:58
URI: http://repository.upi.edu/id/eprint/21102

Actions (login required)

View Item View Item